Hasil pencarian

Selasa, 12 April 2011

Dioda

Komponen aktif elektronika dasar yang akan kita bahas pertama adalah dioda.

Dioda, adalah komponen elektronik yang memiliki sifat dasar meneruskan arus listrik searah. Arus listrik mengalir dari kaki p ke kaki n. Untuk lebih memahami konsep dasar dioda, dapat dilihat pada gambar berikut:

Dioda disimbolkan dengan gambar anak panah yang pada ujungnya terdapat garis yang melintang. Simbol tersebut sebenarnya adalah sebagai perwakilan dari cara kerja dioda itu sendiri. Pada pangkal anak panah disebut juga sebagai anoda (kaki positif = P) dan pada ujung anak panah disebut sebagai katoda (kaki negative = N).

Sifat kesearahan yang dimiliki sebagian besar jenis dioda seringkali disebut karakteristik menyearahkan. Fungsi paling umum dari dioda adalah untuk memperbolehkan arus listrik mengalir dalam suatu arah (disebut kondisi panjar maju) dan untuk menahan arus dari arah sebaliknya (disebut kondisi panjar mundur). Karenanya, dioda dapat dianggap sebagai versi elektronik dari katup pada transmisi cairan.

Dioda sebenarnya tidak menunjukkan kesearahan hidup-mati yang sempurna (benar-benar menghantar saat panjar maju dan menyumbat pada panjar mundur), tetapi mempunyai karakteristik listrik tegangan-arus taklinier kompleks yang bergantung pada teknologi yang digunakan dan kondisi penggunaan. Beberapa jenis dioda juga mempunyai fungsi yang tidak ditujukan untuk penggunaan penyearahan.

Awal mula dari dioda adalah peranti kristal Cat's Whisker dan tabung hampa (juga disebut katup termionik). Saat ini dioda yang paling umum dibuat dari bahan semikonduktor seperti silikon atau germanium.

Komponen aktif

Komponen aktif dalam elektronika memegang peranan penting. Berhasih dan tidaknya suatu rangkaian elektronik lebih dipengaruhi oleh kinerja komponen aktif tersebut.

Komponen aktif yang digunakan pada elektronika dibagi menjadi banyak jenis dan macam, mulai dari dioda, transistor, ic, microprosesor dan sebagainya.

Didalam blog ini, akan dibahas masing-masing komponen aktif tersebut satu persatu. Tentu saja pembahasannya tidak sampai pada hal-hal yang sangat detail dan mendalam, melainkan, pembahasannya menganut prinsip sederhana yang ditujukan pada para hobbist pemula. Mengingat blog ini sengaja dibuat untuk belajar elektronika tingkat dasar. Kami sebagai penulis akan sangat senang dengan kritik dan saran yang membangun, demi kelancaran dan kelengkapan isi dan materi blog ini.

Kami akan sangat senang menerima kritik dan saran, dan dapat dikirimkan melalui email saya berikut : muryatisusetyo@gmail.com. Sebelumnya kami minta maaf yang sebesar-besarnya, jika kami terlambat membalas email dari anda. Lebih dikarenakan kesibukan kami sebagai penulis blog ini.

Minggu, 10 April 2011

Mengetahui nilai kapasitor

Kapasitor, memiliki nilai tertentu yang dikodekan dengan berbagai cara. Kita dapat mengetahui nilai tersebut dengan cara yang mudah. Pada tulisan blog ini akan dibahas beberapa cara saja. diantaranya adalah :
1. Cara membaca nilai kapasitor dengan kode angka
2. Cara membaca kapasitor dengan penulisan nilai yang tertera di badan kapasitor
3. Cara membaca kapasitor dengan menggunakan instrumen penguji

1. Cara membaca nilai kapasitor dengaan kode angka.
Penggunan kode angka biasanya diberikan pada kapasitor dengan kapasitansi yang kecil-kecil. Biasanya dituliskan dengan 3 atau empat digit untuk nilai 100pF atau lebih besar dan 2 digit untuk nilai kapasitor dengan nilai dibawah 100pF. Sebagai contoh:
Kode angka 68 yang tertulis pada sebuah kapasitor menunjukkan nilai kapasitansi 68pF.
Kode angka 102 menunjukkan nilai 1000pF atau 1nF.
Kode angka 6423 menunjukkan nilai 642000pF atau 642nF
dan sebagainya.

Cara menghitung kode kapasitor, pada dasarnya mirip dengan pengkodean resistor. Dapat dibaca pada judul Menghitung nilai resistor dari blog ini.
Kadang kala dibelakang deretan kode angka masih ditambahkan kode huruf J, K atau yang lain. Biasanya kode ini menunjukkan tegangan kerja maksimum yang dapat digunakan pada kapasitor tersebut. Kode J menunjukkan nilai 50V dan K menunjukkan nilai 100V.

Ada juga yang menuliskan tegangan kerja kapasitor yang disertakan pula kode huruf yang menyatakan toleransi nilai kapasitor tersebut. Sebagai contoh 103J/100V yang menyatakan kapasitansi kapasitor adalah 10nF dengan toleransi 5% dan tegangan kerja 100Volt.

2. Membaca nilai kapasitor yang tertera di badan kapasitor.
Penulisan cara ini biasanya dilakukan pada kapasitor dengan kapasitansi yang besar-besar. Sebagia contoh kapasitor dengan penulisan 220µF/25V menyatakan bahwa nilai kapasitansi kapasitor tersebut adalah 220 microFarad dengan maksimum tegangan kerja 25Volt.

3. Membaca nilai kapasitor dengan menggunakan instrumen alat ukur.
Dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur multitester yang memiliki fasilitas C meter. Atau dapat digunakan alat ukur khusus yang biasa disebut dengan LC meter.
Penggunaan alat ukur ini sangat mudah dan cukup akurat, akan tetapi harga alat ukur ini masih terbilang mahal.
Cara penggunannya adalah dengan mencolokkan kaki-kaki kapasitor pada terminal alat ukur. Tentu saja batas pengukuran harus diset pada range yang tepat. dan nilai akan terbaca dengan jelas pada displau alat ukur.
Dengan pertimbangan menghormati hak cipta, dengan sengaja kami tidak menampilkan contoh gambar alat ukur yang dapat digunakan sebagai instrumen pengukur kapasitansi kapasitor. Anda dapat mendapatkan informasi alat ukur ini di banyak link di internet.

Senin, 04 April 2011

Mengganti Kapasitor (lanjutan)

Melanjutkan posting mengganti kapasitor yang sempat terpotong.

Bagaimana jika kapasitor/kondensator digabungkan dengan cara paralel? Mungkin dapat kita lihat ilustrasi berikut ini.
Rangkaian Paralel

Untuk mendapat nilai baru sebuah kondensator dengan cara paralel ini, dapat dihitung dengan mudah. Kondensator pengganti dapat dihitung dengan cara menjumlahkan semua kondensator. Dalam kasus ilustrasi diatas, dapat dibentuk suatu persamaan C pengganti sebagai berikut :

     Cp = C1 + C2 + C3 + .....

Sebagai contoh, diketahui C1 = 1nF
                                        C2 = 3n3
                                        C3 = 470pF

Maka Cp dapat dicari dengan mudah. Cp = 1nF + 3n3 + 470pF

Dalam kasus diatas, karena basis satuan yang berbeda, maka kita harus samakan, agar dapat dijumlahkan.

1nF = 1000pF
3n3 = 3300pF

Jadi, Cp = 1000pF + 3300pF + 470pF
        Cp = 4770pF

Sabtu, 02 April 2011

Mengganti Kondensator

Kadang kala, pada saat kita membutuhkan suatu nilai kapasitor/condensator, saat itu dihadapkan dengan nilai yang tidak terdapat di pasaran. Bagaimana cara mengatasi hal ini?

Pertanyaan umum yang sangat wajar. Kasus ini dapat digantikan dengan menyatukan beberapa kondensator, sehingga diperoleh nilai yang diinginkan. Kita dapat lakukan dengan cara merangkai beberapa kondensator secara paralel maupun secara seri.

Menghitung condensator yang dirangkai secara seri dapat digunakan rumus sederhana sebagai berikut :
Condensator seri
 Nilai C pengganti dirumuskan sebagai berikut :
 sebagai contoh kasus :
Diketahui C1 = 2n2
               C2 = 1n2
               C3 = 1n5
Berapakah nilai C pengganti jika dirangkai secara serial ?

Jawab : 1/Cp = 1/2n2 + 1/1n2 + 1/1n5